• Setia Berjalan dalam Misi Allah (2 Timotius 4:2)

    Setia Berjalan dalam Misi Allah (2 Timotius 4:2)

    Tema GIII se-Jepang tahun 2019

Informasi Konseling

Hubungi:

Pdt. Ayub Mbuilima (090-9102-3516) Email: ayub@giii-japan.org

Ibu Regia (080-3808-1957)

Berita & Informasi

  • Natal Pers. GIII Kobe 2018

    Syalom … diinformasikan kepada semua jemaat dan umat Kristen yang ada di Kobe dan sekitanya bahwa: Persekutuan GIII Kobe akan mengadakan ibadah dan Perayaan Natal  pada: Hari/tgl  : Minggu, 16 Desember 2018 Jam : 16:00 – 18:00 Tempat : Kobe Lutheran Seisho Gakuin Kobe-shi Chuo-Ku, Nakajima dori 2-11. Thema : Natal Meneguhkan Gerejanya (Lukas 2:10) Pembicara : Ev. Ang Wie Hay, M.Div Akses: Sunnomiya eki – Naik Bis 15 menit. Turun di Halte Aotani. Hankyu Roko eki – Naik bis 15 menit turun di Halte Aotani. Kontak Person : Ibu Regia Silalahi (080 3808 1957) Dengan sukacita kami mengharapkan kehadiran jemaat Tuhan dan umat Kristen yang ada di Kobe dan sekitarnya agar kita dapat beribadah memuji dan memuliakan Tuhan. DownloadPoster

  • Iman di wujudkan dengan masuk dalam panggilan yang tidak dapat di Tolak. (Kejadian 3:11,12; 4:1-2,10-11).

      Apabila kita meneliti bagian-bagian Firman Tuhan di atas, maka terjadi dialog antar Musa dengan TUHAN. Dalam dialog tersebut, TUHAN memanggil Musa untuk menjadi hamba-Nya guna memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir . Akan tetapi Musa berusaha untuk menolak panggilan TUHAN dalam mewujudkan kehendak TUHAN tersebut. Maka ada tiga alasan yang dipergunakan Musa sebagai senjata untuk menolak : 1. Pasal 3: 11. Dirinya dipakai sebagai alasan penolakan. ( Tetapi Musa berkaata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan Membawa orang Israel keluar dari mesir?”). Namun alasan ini TUHAN patahkan dengan Jawaban-Nya dalam Pasal 3:12 (Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”). Pengertian yang ditangkap dari jawaban TUHAN kepada Musa adalah bahwa ketika engkau melihat dirimu Musa sebagai standart kekuatan/kemampuan untuk menjalankan Tugas panggilan yang Aku embankan kepadamu Musa maka, engaku tidak dapat melakukannya, namun Kekuatan yang menjadi fondasi bagimu Musa dalam menjalankan tanggung jawab panggilan ini adalah “PenyertaanKu kepadamu Musa. Musa melanjutkan dengan menggunakan alasan penolakan yang kedua. 2. Pasal 4: 1 Alasan kedua. Lingkungan yang akan di tuju, sebagai alasan penolakan. (Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu). TUHAN menjawab musa dalam Pasal 4:2 (TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.”). Jawaban Tuhan ini menunjukkan bahwa ketika Musa hadir ditengah-tengah bangsa Israel ada kuasa Allah yang menjadi bukti panggilan dan penugasan Allah bagi Musa dalam menjalankan Misi Allah. Akan Tetapi alasan ini seakan-akan tidak cukup bagi Musa sehingga ia melanjutkan dengan alasan ketiga: 3. Pasal 4:10. TUHAN disalahkan, karena tidak menciptakan Musa dengan fasih lidah (Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”). Jawaban TUHAN untuk Musa dalam pasal 4:11 (Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?). Jawaban Tuhan memberikan pengertian bagi Musa bahwa hidup Musa berada dalam kedaulatan dan Kuasa Tuhan sehingga seharusnya tidak ada lagi alasan bagi Musa untuk menyalahkan TUHAN dalam hal ini, serta menolak panggilan TUHAN dalam menjalankan kehendak TUHAN. Setelah ketiga alasan penolakan Musa dijawab tuntas oleh TUHAN barulah ia berangkat untuk menjalankan kehendak TUHAN. Pelajaran apa yang perlu dipetik dari perenungan di atas: 1. Seringkali manusia memakai alasan kelemahan-kelemahan dirinya maupun orang lain menjadi kekuatan alasan untuk menolak menjalankan panggilan Tuhan dalam tugas yang akan dipercayakan kepadanya oleh Tuhan. 2. Alasan apapun yang dipergunakan untuk menolak panggilan Tuhan tidak dapat menggagalkan kehendak dan rencana Tuhan dalam menjalankan Misi-Nya. Sebab Kehendak Tuhan bersifat Mutlak dan kekal. 3. Keberhasilan dalam menjalankan kehendak Tuhan bukan terletak pada siapa kita, atau sejauhmana kekuatan dan kepintaran kita, namun semuanya terletak kepada Penyertaan dan Kuasa Allah dalam pelayanan Kita. Sehingga dapatlah disimpulkan bahwa ketika Panggilan Allah ditujukan kepada kita maka tidak perlu adanya banyak alasan untuk menolak, namun hanya satu pernyataan yang semestinya keluar dari hati kita melalui mulut kita yaitu “Aku siap dan Taat kepada Panggilan Mu TUHAN” sebab penyertaan dan kuasanya menjadi jaminan dalam penugasanku untuk mewujudkan misiNYa.

  • Peluncuran Situs Web Resmi GIII Persekutuan Wilayah Kobe

    Pada bulan Oktober 2016 situs web resmi GIII (Gereja Interdenominasi Injili Indonesia) Persekutuan Wilayah Kobe diluncurkan dengan nama domain kobe.giii-japan.org. Bila ada pertanyaan dan komentar silakan hubungi Bpk. Pdt. Ayub Mbuilima.

Pencarian Artikel

Ringkasan Khotbah Terbaru

  • Jemaat Teguh dan Setia

    Selamat Tahun Baru dan selamat beribadah di Ibadah minggu pertama di tahun 2018 ini. Betapa Tuhan senang umatnya mengutamakan Tuhan, maka marilah kita di tahun ini juga memulai hari minggu pertama dengan ibadah kita disini, betapa Tuhan senang kepada kita yang boleh bersyukur kepada Tuhan. Tema Gereja GIII tahun ini mengambil tema dari teks yang kita baca hari ini yaitu Ibrani 10:22-25, dari keempat ayat ini ada satu kata yang terus diulang dalam setiap kalimat yaitu, (ay. 22) “marilah kita menghadap Allah.…”; (ay. 23) “marilah kita teguh berpegang pada pengakuan…”; (ay. 24) “marilah kita saling memperhatikan…”; (ay. 25) “marilah kita saling menasihati…”. Dari 4 ayat sebagai teks tema tahun 2018 ini ada 4 kali dikatakan marilah kita, kata ‘marilah kita’ adalah ajakan atau anjuran. Seperti biasa kita sering memakai kata ini khususnya pada moment tahun baru, sebagai contoh: Bapak kepada anggota keluarganya, marilan kita terus maju; anak berkata kepada Bapaknya marilah saya bertambah uang sakunya; Suami-istri mengatakan, marilah kita lebih hemat supaya tabungan bertambah; Para Pendeta suka mengajar jemaat, marilah kita membaca Firman Tuhan setiap hari; dan mungkin kepada diri kita sendiri juga, mari tahun ini lebih mengasihi keluarga. 

Perlu Dukungan Doa?

Apakah Anda memiliki pergumulan dan membutuhkan dukungan doa? Kirimkan kepada kami pokok doa Anda dan kami akan turut berdoa untuk Anda.

Pokok doa dapat dikirimkan melalui email melalui kontak para Hamba Tuhan yang tersedia di halaman Kontak Kami.